Showing posts with label Motivasi. Show all posts
Showing posts with label Motivasi. Show all posts

Dec 5, 2007

Menebang Pohon Bintaro

Di depan rumah saya ada pohon bintaro yang sudah cukup besardan rindang dengan batang berdiameter sekitar 25 cm. Pohon itu sudah berada di sana ketika saya mulai menempati rumah itu 3 tahun lalu. Adem, itulah yang dirasakan ketika barada di bawahnya saat terik matahari siang menyengat. Pada ujung dahan dan ranting yang dipenuhi daun, tergantung buah yang persis seperti buah mangga dan tampak sangat menggiurkan, apalagi ketika warnanya mulai memerah. Sayang buah itu tidak bisa dimakan.

Suatu siang ketika saya sedang ngadem di bawah pohon itu, seorang ibu tua dengan menggandeng cucunya berjalan menghampiri. Dia menyapaku saat sampai di dekatku “ Assalaamualaikum, pak!” “Wa’alaikum salaam.. “ sahutku. Seterusnya terjadi perbincangan singkat sekedar berbasa basi. Akhirnya si ibu tua memberanikan diri menyapaikan maksudnya, “ Pak maaf, apakah saya boleh minta buah itu ?” sambil meunjuk ke atas. “ Oh silahkan Ibu” sahutku. “ Mau untuk apa Ibu” sambungku bertanya. “ Kepingin nyicipin, bagaimana ya rasanya?” jawab si Ibu. Saya terdiam, ada rasa kasihan, geli, bingung bercampur aduk. Pelan pelan aku jelaskan ke Ibu itu “ Maaf ibu, pohon ini namanya pohon bintaro, buahnya memang mirip mangga bu, tapi buahnya nggak bisa dimakan. Tadi ketika ibu minta saya iyakan karena saya pikir ibu perlu bijinya yang sudah tua untuk di tanam.” Si Ibu tua pun berpamitan dan pergi, nampak gurat kecewa (dan mungkin malu). Sejak saat itu Saya memutuskan untuk menebang pohon itu dan menggantinya dengan pohon buah, yang lebih bermanfaat.

Akhirnya pohon jambu air hijau (Cincalo) yang saya pilih untuk pengganti. Saya sengaja menebang pohon bintaro itu sendiri sambil mengisi waktu luang sore hari. Alhamdulillah dengan sebilah golok akhirnya pohon itu tumbang. Tetangga sebelah rumah saat melihat aku menebang pohon bertanya, apa engggak sayang pohonnya di tebang, kan jadi panas. Memang betul sejak pohon itu ditebang rumah jadi panas, tapi Insya Allah akan tergantikan oleh pohon jambu nantinya. Pekerjaan terberat di depan mata adalah mencabut tonggak pohon bintaro yang sudah cukup besar. Sudah barang tentu akarnya besar besar dan tertancap kuat dan dalam di tanah. Bagaimanapun harus tercabut, karena di situlah si jambu air sebagai tanaman pengganti harus di tempatkan (maklum space terbatas).

Dengan berbekal peralatan seadanya, sebilah golok dan sebatang linggis saya mulai menggali pokok pohon di sore keesokan hari setelah pohon roboh. Sedikit demi sedikit tanah di sekitar mulai terbongkar, keras sekali. Satu per satu akar pohon pun mulai kelihatan dan satu per satu saya tebas dengan golok. Sering kali linggis berbunyi “crang…” pertanda beradu dengan batu. Batu batu itupun harus di bongkar. Sulit memang. Ketika sedang asyik menggali tonggak pohon, setidaknya ada empat orang yang lewat dan memberikan komentar. Orang pertama bilang “ Pak, pohon bintaro itu akarnya banyak dan kuat, susah untuk diambil tonggaknya”. Yang kedua : “ Wah kalo hanya dengan linggis kecil begitu, mana mungkin biasa keambil, harus dengan cangkul dan itu susah sekali.” Yang ketiga : “Kalau mau nyabut itu harus pakai katrol pak, kalau pakai linggis gitu enggak bakalan kecabut.” Dan yang terakhir : “ Kalau galinya model gitu juga paling cepat seminggu batu kelar pak.”. Semuanya hanya saya jawab sengan senyum sambil berkata “ Ya saya coba saja Pak, Insya Allah bisa.” Ada keraguan juga di hati, tapi tekad sudah bulat. Jambu harus tertanam.

Akar demi akar, batu demi batu satu persatu tersingkir dari tempatnya. Tak terasa tumpukan tanah galian juga sudah mulai menggunung. Akhirnya pokok pohon rebah juga. Tidak perlu dua hari atau bahkan seminggu, ternyata hanya beberapa jam saja. Dan sekarangpun Pohon jambu sudah menggantikan posisinya. Selesai semua, ketika cuci tangan tangan terasa perih dan saya baru menyadari bahwa tangan saya banyak yang lecet dan bahkan berdarah. Yang saya heran pada saat menggali terlalu asyik "menikmati proses". Sayapun hanya bisa berharap agar bisa hidup, berbuah dan tidak perlu mengecewakan orang lagi.

Hikmah yang dapat diambil adalah :

1. Beranilah meninggalkan comfort zone untuk mendapatkan sesuatu yang lebih besar, lebih berarti. Pohon bintaro yang rindang adalah sebuah comfort zone.

2. Keterbatasan peralatan atau sarana serta keadaan bukan alasan untuk tidak ACTION dalam mengejar mimpi. Yakin akan tujuan dan konsisten.

3. Hambatan dan rintangan pasti akan muncul dalam perjalanan (seperti akar dan batu), tapi yakinlah bahwa itu akan teratasi.

4. Hati hati dengan orang orang disekitar kita, karena kadang kadang merekalah yang mengendorkan semangat kita (seperti 4 orang yang berkomentar).

5. Ketika kita menikmati proses dan punya keyakinan kuat, beratnya perjuangan dan "berdarah darah" menjadi tidak terasa. Justru kakan disadari ketika telah melalui proses itu. Dan disitulah indahnya sebuah proses.

6. Kita hanya berusaha, Allahlah yang menentukan (Let it God).


Semoga bermanfaat.

Salam FUNtastic

Mar 21, 2007

Menembus Keterbatasan

Kutu anjing adalah binatang yang mampu melompat 300 kali tinggi tubuhnya. Namun, apa yang terjadi bila ia dimasukan ke dalam sebuah kotak korek api kosong lalu dibiarkan disana selama satu hingga dua minggu? Hasilnya, kutu itu sekarang hanya mampu melompat setinggi kotak korek api saja! Kemampuannya melompat 300 kali tinggi tubuhnya tiba-tiba hilang.
Ini yang terjadi. Ketika kutu itu berada di dalam kotak korek api ia mencoba melompat tinggi. Tapi ia terbentur dinding kotak korek api. Ia mencoba lagi dan terbentur lagi. Terus begitu sehingga ia mulai ragu akan kemampuannya sendiri.
Ia mulai berpikir, "Sepertinya kemampuan saya melompat memang hanya segini." Kemudian loncatannya disesuaikan dengan tinggi kotak korek api. Aman. Dia tidak membentur. Saat itulah dia menjadi sangat yakin, "Nah benar kan? Kemampuan saya memang cuma segini. Inilah saya!"
Ketika kutu itu sudah dikeluarkan dari kotak korek api, dia masih terus merasa bahwa batas kemampuan lompatnya hanya setinggi kotak korek api. Sang kutu pun hidup seperti itu hingga akhir hayat. Kemampuan yang sesungguhnya tidak tampak. Kehidupannya telah dibatasi oleh lingkungannya.
Sesungguhnya di dalam diri kita juga banyak kotak korek api. Misalnya anda memiliki atasan yang tidak memiliki kepemimpinan memadai. Dia tipe orang yang selalu takut tersaingi bawahannya, sehingga dia sengaja menghambat perkembangan karir kita. Ketika anda mencoba melompat tinggi, dia tidak pernah memuji, bahkan justru tersinggung. Dia adalah contoh kotak korek api yang bisa mengkerdilkan anda.
Teman kerja juga bisa jadi kotak korek api. Coba ingat, ketika dia bicara begini, "Ngapain sih kamu kerja keras seperti itu, kamu nggak bakalan dipromosikan, kok." Ingat! Mereka adalah kotak korek api. Mereka bisa menghambat perkembangan potensi diri Anda.
Korek api juga bisa berbentuk kondisi tubuh yang kurang sempurna, tingkat pendidikan yang rendah, kemiskinan, usia dan lain sebagianya. Bila semua itu menjadi kotak korek api maka akan menghambat prestasi dan kemampuan anda yang sesungguhnya tidak tercermin dalam aktivitas sehari-hari.
Bila potensi anda yang sesungguhnya ingin muncul, anda harus take action untuk menembus kotak korek api itu. Lihatlah Ucok Baba, dengan tinggi tubuh yang di bawah rata-rata ia mampu menjadi presenter di televisi. Andapun pasti kenal Helen Keller. Dengan mata yang buta, tuli dan "gagu" dia mampu lulus dari Harvard University. Bill Gates tidak menyelesaikan pendidikan sarjananya, namun mampu menjadi "raja" komputer. Andre Wongso, tidak menamatkan sekolah dasar namun mampu menjadi motivator nomor satu di Indonesia.
Contoh lain Meneg BUMN, Bapak Sugiharto, yang pernah menjadi seorang pengasong, tukang parkir dan kuli di Pelabuhan. Kemiskinan tidak menghambatnya untuk terus maju. Bahkan sebelum menjadi menteri beliau pernah menjadi eksekutif di salah satu perusahaan ternama.
Begitu pula dengan Nelson Mandela. Ia menjadi presiden Afrika Selatan setelah usianya lewat 65 tahun. Kolonel Sanders sukses membangun jaringan restoran fast food ketika usianya sudah lebih dari 62 tahun.
Nah, bila anda masih terkungkung dengan kotak korek api, pada hakekatnya anda masih terjajah. Orang-orang seperti Ucok Baba, Helen Keller, Andre Wongso, Sugiharto, Bill Gates dan Nelson Mandela adalah orang yang mampu menembus kungkungan kotak korek api. Merekalah contoh sosok orang yang merdeka, sehingga mampu menembus berbagai keterbatasan